Pages

PERTOLONGAN PERTAMA

PERTOLONGAN PERTAMA

1.Pertolongan Pertama
Pengertian : pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cedera / kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar.
2.Medis Dasar
Pengertian : tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh orang awam yang terlatih secara khusus dimana batasannya sesuai sertifikat yang dimiliki oleh Pelaku Pertolongan Pertama.
3.Tujuan Pertolongan Pertama
Menyelamatkan jiwa penderita.
Mencegah cacat.
Memberikan rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan.
4.Pelaku Pertolongan Pertama
Pengertian : penolong yang pertama kali tiba di tempat kejadian, yang memiliki kemampuan dan terlatih dalam penanganan medis dasar.
5.Dasar Hukum
Pasal 531 KUHP tentang orang yang perlu ditolong.
Pasal 322 KUHP tentang keharusan untuk menjaga kerahasiaan penderita yang ditolong.
6.Kewajiban Pelaku Pertama
Menjaga keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.
Dapat menjangkau penderita.
Dapat mengenali dan mengatasi masalh yang mengancam nyawa.
Meminta bantuan bantuan / rujukan
Memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban.
Membantu pelaku pertolongan pertama lainnya.
Ikut menjaga kerahasiaan medis penderita.
Melakukan komunikasi dengan petugas lainnya yang terlibat.
Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi.
7.Persetujuan Tindakan Pertolongan
Persetujuan yang dianggap diberikan atau tersirat (Implied consent).
Persetujuan yang dinyatakan (Expressed consent).
8.Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama
Jujur dan bertanggung jawab.
Berlaku profesional.
Kematngan emosional.
Kemampuan bersosialisai.
Kemampuannya nyata terukur sesuai sertifikasi.
Kondisi fisik baik.
Mempunyai rasa bangga.
9.Peralatan Dasar pelaku Pertolongan Pertama
Alat Pelindung Diri
a.Sarung tangan lateks.
b.Kacamat pelindung.
c.Baju pelindung.
d.Masker penolong.
e.Masker resusitasi.
f.Helm.
Alat perlindungan diri minimal bagi seorang pelaku Pertolongan Pertama adalah sarung tangan dan masjer RJP.
10.Beberapa Tindakan Umum Untuk Menjaga Diri
Mencuci tangan.
Membersihkan alat.

11.Peralatan Pertolongan Pertama
Penutup luka
Pembalut
Cairan antiseptik
Cairan pencuci lika
Peralatan stabilisasi
Gunting pembalut
Pinset
Senter
Kapas
Selimut
Kartu penderita
Alat tulis
Oksigen
Tensimeter dan stetoskop
Tandu

PENILAIAN

A.Penilaian Keadaan (Science Assesment)
Bagaimana kondisi saat ini ?
Kemungkinan apa yang akan terjadi ?
Bagaimana mengatasinya ?
B.Pada saat tiba dilokasi kejadian penolong harus :
1.Memastikan keselamatan penolong, penderita, dan orang-orang di sekitar lokasi kejadian.
2.Penolong harus memperkenalkan diri dan minta izin untuk menolong bila memungkinkan.
3.Menentukan keadaan umum kejadian dan mulai melakukan penilaian dini dari penderita.
4.Mengenali dan mengatasi gangguan / cedera yang mengancam jiwa.
5.Stabilkan penderita dan teruskan pemantauan.
6.Minta bantuan.

C.Penilaian Dini
a.Kesan umum
b.Periksa respon
Ada 4 tingkatan, yaitu (ASNT)
1.A (Awas) : penderiuta sadar dan mengenali keberadaan dan lingkungannya.
2.S (Suara) : penderita bereaksi hanya jika dipanggil atau mendengar suara.
3.N (Nyeri) : penderita hany abereaksi terhadap rangsangan nyeri yang diberikan.
4.T (Tidak respon) : penderita tidak bereaksi terhadap rangsangan apapun yang diberikan penolong.
c.Pastikan jalan napas terbuka dengan baik
d.Nilai pernapasannya
e.Nilai sirkulasi dan hentikan perdarahan berat
f.Hubungi bantuan
D.Pemeriksaan fisik
Pada penderita harus dicari :
a.Perubahan bentuk / deformitas
b.Luka terbuka / open injury
c.Nyeri tekan / tenderness
d.Pembengkakan / swealing
Pemeriksaan fisik mulai dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki dan melibatkan penglihatn, perabaan, dan pendengaran.
e.Riwayat pendwerita
f.Pemeriksaan berkala
g.Pelaporan


BANTUAN HIDUP DASAR DAN RESUSITASI JANTUNG PARU

Tubuh manusia terdiri dari beberapa sistem diantaranya yang utama adalah sistem pernapasan dan sistem peredaran darah. Kedua sistem ini merupakan komponen utama untuk mempertahankan hidup seseorang. Terganggunya salah satu atau kedua fungsi ini dapat mengakibatkan ancaman nyawa pada seseorang.
Apabila terdapat tanda-tanda yang pasti dan mati maka RJP tidak perlu dilakukan, RJP merupakan satu-satunya cara yang dikenal untuk mengatasi mati klinis. Prinsip dasar RJP dikenal dengan singkatan A, B dan C
A : Untuk Airway Control atau penyesuaian jalan napas
B : Untuk Breathing Support atau pernapasan dengan bantuan napas
C: Untuk Circulation Support atau bantuan sirkulasi atau lebih dikenal dengan pijatan jantung luar dan menghentikan perdarahan besar
Sumbatan jalan napas pada orang sadar umumnya karena makanan, sedangkan pada orang yang tak respon adalah lidah yang jatuh kebelakang.
Teknik pemberian napas buatan
1.Respon korban, jika perlu mintalah bantuan
2.Buka jalan napas, gunakan teknik tekan dahi angkat dagu
3.Lakukan pemeriksaan nafas, lihat, dengar, dan rasakan selama 3-5 detik
4.Jika penderita tidak bernafas, berikan 2-5 kali nafas buatan secara kuat dan lembut
5.Lakukan pemeriksaan nadi karotis selama 5-10 detik
6.Jika nadi karotis berdenyut, maka teruskan pemeriksaan nafas buatan.
Langkah-langkah melakukan RJP untuk satu orang penolong:
1.Tentukan korban (tidak respon)
2.Aktifkan sistem minta bantuan
3.Buka jalan nafas dan lakukan pemeriksaan nafas
4.Lakukan bantuan nafas awal dean jika perlu singkirkan benda asing dari mulut penderita agar tidak bau
5.Jika korban bernafas dan denyut nadi karotis teraba, latakkan korban pada posisi miring stabil
6.Periksa nadi karotis, jika tidak ada denyutan, lakukan RJP dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.posisikan penolong dan tentukan titik pijatan
b.posisikan pijatan jantung sebanyak 15 kali dengan kecepatan 80-100 kali permenit
c.berikan nafas bantuan 2 kali
d.lakukan terus sampai mencapai 4 siklus dari 15 pijatan dan 2 kali inflasi
e.kemudian periksa nadi karotis korban
f.jika nadi berdenyut dan nafas ada teruskan memonitor ABC sanpai bantuan datang
7.Jika nadi berdenyut tetapi nafas belum ada, maka teruskan bantuan pernafasan 10-12 kali permenit, jika kemudian nadi tidak berdenyut lagi, lakukan lagi RJP. Periksa lagi nadi karotis dan nafas setiap 2 atau 3 menit kemudian.


PERDARAHAN DAN SYOK

A.Perdarahan
1.Perdarahan terjadi akibat rusaknya dinding pembuluh darahy yang disebabkan oleh rudapaksa (trauma) atau penyakit.
2.Klasifikasi sumber Perdarahan
a.Perdarahan nadi (arteri). Darah yang berasal dari pembuluh nadi, keluar memancar sesuai dengan denyutan nadi dan berwarna merah terang.
b.Perdarahan balik (vena). Darah yang keluar dari pembuluh balik, mengalir berwarna merah gelap.
c.Perdarahan rambut (kapiler). Darah yang keluar dari pembuluh kapiler merembes perlahan.
3.Jenis perdarahan
a.Perdarahan luar
Perdarahan yang tampak / terlihat jelas keluar dari luka terbuka.
b.Perdarahan dalam
Perdarahan biasanya tidak terlihat dan kulit tampak tidak rusak.
4.Penanganan
a.Penanggulangan terhadap infeksi pada penanganan perdarahan
1.Pakai APD agar tidak terkena darah atau cairan tubuh korban.
2.Jangan menyentuh mulut, hidung, mata, makanan saat perawatan.
3.Buang bahan yang sudah kontak dengan darah atau cairan tubuh korban.
4.Penanganan perdarahan luar
5.Tekan langsung pada bagian yang berdarah 5 – 15 menit dengan penutup luka yang tebal. Bila belum berhenti dapat ditambah penutup lain tanpa melepas penutup luka yang lama.
6.Elevasi (dilakukan bersamaan dengan tekanan langsung). Tinggikan bagian yang berdarah lebih tinggi dari jantung.
7.Tekan pada titik tekan (pembuluh nadi) antara luka dengan jantung.
Prioritas pertolongan pada perdarahan arteri
Penanganan perdarahan dalam atau diwaspadai ada perdarahan dalam:
a.Baringkan dan istirahatkan penderita
b.Buka jalan nafas dan pertahankan
c.Periksa berkala denyut nadi dan pernafasan
d.Perawatan syok bila terjadi syok atau diduga akan menjadi syok.
e.Jangan beri makan dan minum.
f.Rawat cedera berat lain jika ada.
g.Berikan oksigen bila ada.
h.Rujuk ke fasilitas kesehatan.

B.Syok
1.Syok terjadi bila ada sistem peredaran darah (sirkulasi) gagal mengirimkan darah yang mengandung oksigen dan bahan nutrisi ke organ vital (terutama otak, jantung, dan paru-paru)
2.Penyebab syok
a.Kegagalan jantung memompa darah.
b.Kehilangan darah dalam jumlah besar.
c.Pelebaran (dilatasi) pembuluh darah yang luas sehingga darah tidak dapat mengisi pembuluh darah dengan baik.
d.Kekurangan cairan tubuh dalam jumlah besar misalnya karena diare.
3.Gejala dan tanda
a.Tahap awal
1.Respon masih baik
2.Denyut nadi mulai sedikit meningkat tapi masih kuat.
3.Nafas bertambah cepat
4.Ketakutan dan gelisah

b.Tahap dekompensasi
1.Respon masih baik
2.Denyut nadi meningkat
3.Nafas cepat dan tambah susah
4.Kulit pucat dan dingin
5.Mual dan haus
6.Lemah dan pusing
c.Tahap akhir
1.Respon menurun
2.Tekanan darah menurun
3.Nadi cepat dan lemah sampai sulit teraba.
4.Nafas melemah
5.Kulit pucat, dingin, dan lembab
6.Lemah dan pusing
7.Gemetar dan menggigil
8.Sering kebiruan (sianosis) pada cuping hidung dan bibir.
4.Penanganan syok
a.Bawa korban ke tempat yang teduh dan aman.
b.Tidurkan telentang, tungkai ditinggikan 20 – 30 cm bila tidak dicurigai ada patah tulang belakang atau patah tungkai. Bila menggunakan papan spinal atau tandu maka angkat bagian kaki.
c.Pakaian penderita dilonggarkan
d.Beri selimut untuk mencegah panas tubuh keluar.
e.Tenangkan penderita
f.Pastikan jalan nafas dan nafas baik.
g.Kontrol perdarahan dan rawat cedera lainnya bila ada.
h.Berikan oksigen bila ada.
i.Jangan beri makan dan minum
j.Periksa berkala tanda vital secara berkala
k.Rujuk ke fasilitas kesehatan.


CEDERA JARINGAN LUNAK

Dalam tubuh manusia, kulit, jaringan lemak, pembuluh darah, jaringan ikat, membran, kelenjar, otot, dan syaraf termasuk dalam kelompok jaringan lunak.
Cedera jaringan lunak (luka) adalah terputusnya keutuhan jaringan lunak baik di luar maupun di dalam tubuh. Cedera jaringan lunak yang paling jelas adalah cedera pada kulit.
A.Klasifikasi luka
Berdasarkan keterlibatan jaringan kulit, maka luka dibagi menjadi 2, yaitu:
1.Luka Terbuka
Luka terbuka adalah cedera jaringan lunak yang disertai kerusakan / terputusnya jaringan kulit atau selaput lendir.
Jenis luka terbuka
1)Luka lecet
Terjadi akibat gesekan.
Kadang – kadang sangat nyei.
Tepi luka umumnya tidak teratur.
2)Luka sayat / iris
Terjadi akibat kontak dengan benda tajam.
Jaringan kulit dan lapisan dibawahnya terputus sampai kedalaman yang bervariasi.
Tepi luka teratur.
3)Luka robek
Terjadi akibat benturan keras dengan benda tumpul.
Karakteristik luka sama seperti luka sayat, perbedaannya adalah tepi luka tidak teratur bentuknya.
4)Luka tusuk
Terjadi akibat masuknya benda tajam dan runcing melalui kulit dalam tubuh.
Luka relatif lebih dalam dibandingkan dengan lebarnya.
Bentuk luka hampir menyerupai benda yang menusuk.
5)Avulsi
Terjadi akibat kulit dan lapisan dibawahnya terkelupas, mungkin masih menempel atau hilang sama sekali.
6)Amputasi
Luka terbuka dengan jaringan tubuh terpisah.
Pada ujung luka, mungkin terlihat lembaran kulit dan ujung tulang.
Perdarahan dapat sangat hebat, atau sebaliknya pembuluh darah bisa menutup sendiri, membatasi keluarnya darah.
7)Cedera remuk
Dapat berupa gabungan antara luka terbuka dan tertutup.
Terjadi akibat alat gerak terjepit diantara alat-alat berat.
2.Luka Tertutup
Cedera ini terjadi pada jaringan lunak tanpa disertai kerusakan kulit, tidak ada hubungan antara bagian dalam tubuh dengan udara luar.
Jenis luka tertutup
1)Memar
Lapisan epidermis kulit utuh, tetapi sel pembuluh darah pada lapisan dermis rusak.
Pada daerah luka umumnya terjadi nyeri, bengkak, dan perubahan warna (merah kebiruan).
2)Hematoma
Kerusakan jaringan lebih luas daripada memar.
Pembuluh darah yang terlibat lebih besar.
Darah lebih banyak yang keluar.
3)Cedera remuk
Berupa luka terbuka maupun luka tertutup.


B.Penutup luka dengan pembalut
Penutup luka adalah bahan yang diletakkan di atas luka. Ada 2 macam penutup luka, yaitu:
1.Punutup luka oklusif (kedap)
2.Penutup luka tebal (bantalan penutup luka)
Fungsi penutup luka adalah sebagai berikut.
1.Membantu mengendalikan perdarahan
2.Mencegah kontaminasi lebih lanjut
3.Mempercepat penyembuhan
4.Mengurangi nyeri

C.Pembalut
Pembalut adalah bahan yang digunakan untuk mempertahankan penutup luka.
Fungsi pembalut adalah sebagai berikut.
1.Penekanan untuk menghentikan perdarahan.
2.Mempertahankan penutup luka pada tempatnya.
3.Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera.
Beberapa jenis pembalut adalah sebagai berikut.
1.Pembalut pita / gulung
2.Pembalut segitiga (mitela)
3.Pembalut tabung / tubuler.
4.Pembalut penekan

D.Pedoman penutupan luka dan pembalutan
1.Penutupan luka
a.Petutup luka harus meliputi seluruh permukaan luka.
b.Upayakan permukaan luka sebersih mungkin sebelum menutup luka, kecuali bila luka disertai perdarahan, maka prioritasnya dalah menghentikan perdarahan tersebut.
c.Pemasangan penutup luka harus dilakukan sedemikian rupa.
d.Jangan memasang pembalut sampai perdarahan terhenti, kecuali pembalutan penekanan untuk menghentikan perdarahan.
2.Pembalutan
a.Jangan membalut terlalu kencang atau terlalu longgar.
b.Jangan biarkan ujung sisa terurai.
c.Bila membalut luka yang kecil sebaiknya daerah yang dibalut lebih lebar.
d.Jangan menutupi ujung jari
e.Khusus pada anggota gerak, pembalutan dilakukan dari distal ke proksimal arah jantung.
f.Lakukan pembalutan dalam posisi yang diinginkan.


CEDERA KEPALA,LEHER, TULANG BELAKANG, DAN DADA

A.Cedera Kepala
1.Cedera kepala adalah semua benturan atau ruda paksa pada daerah kepala yang dapat mengakibatkan terganggunya fungsi otak baik ringan maupun berat.
2.Penyebab dari cedera kepala ini yaitu benturan benda tumpul dengan kepala.
3.Secara umum cedera kepala dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
1)Cedera kepala sederhana
Kepala mengalami benturan yang cukup keras namun tidak terjadi kerusakan tengkorak dan otak.
2)Patah tulang tengkorak
Pada patah tulang tengkorak, ada 2 jenis luka (yang berhubungan dengan keutuha jaringan tulang), yaitu
a.Luka terbuka
Bila tulangnya patah dan jaringan kulit diatasnya rusak.
b.Luka tertutup
Bila kulit kepala luka, namun tulang tengkorak masih utuh.
3)Cedera otak (dapat disertai patah tulang tengkorak)
Cedera otak ada dua macam, yaitu:
a.Cedera otak langsung
Dapat terjadi pada cedera kepala terbuka, dimana otak dapat robek, tertusuk atau memar akibat patahan tulang atau benda asing.
b.Cedera otak tidak langsung
Dapat terjadi baik pada cedera kepala terbuka atau tertutup.
Gejala dan tanda dari cedera otak adalah sebagai berikut.
1.Perubahan respon (dari tampak bingung sampai tidak ada respon sama sekali).
2.Gangguan pernafasan, pola pernafasan tidak teratur.
3.Sakit kepala, pusing muncul mendadak setelah benturan.
4.Mual
5.Muntah
6.Gangguan penglihatan, penglihatan ganda.
7.Manik mata (pupil) tidak simetris.
8.Kejang
9.Perubahan tanda vital
10.Nyeri disekitar cedera.
11.Luka terbuka atau tertutup di daerah kepala.
12.Pada patah tulang tengkorak mungkin ditemui:
a.Ada bagian tengkorak yang teraba lembut atau lebih dalam.
b.Darah atau cairan otak keluar melalui hidung / telinga.
13.Memar dibelakang telinga (battle sign)
14.Memar disekitar mata (racoon’s eyes)
15.Kehilangan rasa dan gangguan fungsi motorik.
16.Periode hilang kesadaran.
17.Postur abnormal.
Penanganan
1.Lakukan penilaian dini.
2.Baringkan dan istirahatkan penderita
3.Imobilisasi kepala dan leher.
4.Hentikan perdarahan bila ada.
5.Berikan oksigen bila asa sesuai protokol.
6.Tutup dan balut luka.
7.Periksa tanda vital secara berkala.
8.Rujuk ke fasilitas kesehatan.


B.Cedera Spinal
1.Cedera spinal adalah semua cedera yang berhubungan dengan tulang belakang, mulai dari tulang leher sampai tulang ekor termasuk persarafan dalamnya.
2.Penyebab : benturan benda tumpul pada daerah tulang belakang, jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, dan lain-lain.
3.Gejala dan tanda :
a.Perubahan bentuk tubuh pada kepala, leher, atau daerah tulang punggung.
b.Kelumpuhan pada alat gerak.
c.Gangguan persarafan pada alat gerak.
d.Ada bagian yang lebih sensitif atau nyeri.
e.Nyeri pada saat bergerak atau tidak bergerak.
f.Hilangnya kemampuan mengendalikan buang air besar dan berkemih.
g.Sulit bernafas, dengan atau tanpa pergerakan dada.
h.Priapismus (ereksi kemaluan pria yang menetap)
i.Cedera kepala, gumpalan darah di daerah bahu, punggung atau sisi penderita.
j.Postur.
k.Dapat terjadi syok.
4.Penyulit pada cedera spinal
a.Henti nafas, karena kelumpuhan otot dada.
b.Kelumppuhan umum.
c.Syok
5.Penanganan
a.Analisa mekanisme terjadinya cedera.
b.Lakukan stabilisasi manual kedudukan netral satu garis lurus pada leher dan kepala saat kontak pertama kali dengan pasien, bila ada pasang bidai leher (neck collar)
c.Lakukan penilaian dini.
d.Berikan oksigen bila ada sesuai protokol.
e.Lakukan pemeriksaan fisik.
f.Pertahankan stabilisasi leher.
g.Penderita harus diimobilisasi dengan papan spinal atau alas kertas lainnya yang sejenis.
h.Periksa tanda vital penderita selama transportasi.
i.Rujuk ke fasilitas kesehatan.

C.Cedera Pada Leher
1.Ada 2 macam cedera leher, yaitu :
a.Cedera leher terbuka
b.Cedera leher tertutup
2.Gejala dan tanda
a.Luka terbuka pada daerah leher atau emar di daerah leher, atau kelainan bentuk.
b.Sukar bicara atau kehilangan suara, atau perubahan suara menjadi serak atau parau.
c.Sumbatan jalan nafas.
d.Tenggorokan terlihat tidak lurus.
e.Dapat teraba udara dibawah kulit (krepitus) disekitar leher dekat daerah luka yang dapat meluas.
3.Penanganan
a.Lakukan penilaian dini, pastikan jalan nafas terbuka, berikan oksigen sesuai protokol bila ada.
b.Bila ada luka terbuka besar, tutup dahulu dengan tangan lalu pasang penutup kedap yang dilapisi dengan penutup tebal.
c.Baringkan penderita miring ke kiri.
d.Bila ada benda menancap, jangan dicabut, tetapi distabilkan.
e.Rawat syok bila ada.
f.Hati-hati bila ditemukan udara dibawah kulit.
g.Bawa ke fasilitas kesehatan.


D.Cedera Dada
1.Cedera dada dibagi menjadi 2, yaitu
a.Cedera dada tertutup
Kulit pada daerah dada tidak ikut terbuka. Umumnya terjadi akibat tumbukan dengan benda tumpul.
b.Cedera dada tertutup.
Kulit dan dinding dada terbuka dan ada kemungkinan terjadinya hubungan antara udara dalam rongga dada dengan udara luar.
2.Penyulit cedera dada
a.Rongga dada kemasukan udara bebas.
b.Rongga dada kemasukan darah.
c.Gabungan keduanya.
3.Gejala dan tanda
a.Sesak nafas.
b.Nyeri pada saat bernafas.
c.Nyeri di daerah cedera.
d.Gejala lainnya sesuai dengan jenis cederanya.
4.Penanganan cedera dada tertutup
a.Lakukan penilaian dini, buka jalan nafas.
b.Nilai pernafasannya, berikan oksigen bila ada, bersiap untuk melakukan RJP.
c.Hentikan perdarahan luar bila ada.
d.Biarkan pasien pada posisi yang dianggap paling nyaman.
e.Pantau tanda vital secara berkala.
5.Penanganan cedera dada terbuka
a.Lakukan penilaian dini. Jaga jalan nafas tetap terbuka.
b.Jangan mencabut jika ada benda yang menancap.
c.Segera menutup luka dengan penutup kedap.
d.Ingat prinsip luka tusuk, bila ada maka rawat luka tusuk keluar dengan cara yang sama.
e.Penatalaksanaan selanjutnya seperti pada cedera dada lainnya.
f.Rawat syok, berikan oksigen bila ada sesuai protokol.
g.Rujuk ke fasilitas kesehatan.

E.Patah Tulang Iga
1.Gejala dan tanda
a.Nyeri pada pernafasan.
b.Perubahan bentuk dinding dada.
c.Dinding dada tidak mengembang dengan baik pada saat bernafas.
d.Adanya gerakan paradoks.
e.Perubahan bentuk pada dada.
f.Batuk darah.
g.Penderita g cedera (guarding position)
h.Memar yang jelas dan luas di daerah dada, perubahan bentuk dada.
i.Pelebaran pembuluh balik leher, mata merah, sianosis, bagian tubuh atas bengkak.
j.Tanda-tanda syok
2.Penanganan
a.Seperti pada pertolongan cedera dada tertutup.
b.Berikan bantalan pada bagian dada yang patah.
c.Pada kasus flail chest upayakan bagian yang patah terganjal sehingga tidak ikut bergerak pada saat bernafas.
d.Pasang gendongan.
e.Rujuk ke fasilitas kesehatan.


CEDERA ALAT GERAK

Alat gerak yang terdiri dari tulang, sendi dan jaringan ikat sangat penting. Setiap cedera atau gangguan yang terjadi pada sistem ini akan mengakibatkan terganggunya pergerakan seseorang untuk sementara atau selamanya. Secara umum cedera pada alat gerak dapat berupa:
a.patah tulang
b.otot atau sambungan ototnya teregang melebihi batas normal
c.Robek atau putunya jaringan ikat di sekitar sendi
d.Kepala sendi atau tulang ujung keluar dari sendi

A.Patah Tulang
1.Pengertian: terputusnya tulang baik sebagian atau seluruhnya
2.Penyebab : adanya kekerasan dari luar. Misalnya terpukul, terkena benda keras, tertembak, terjatuh, dsb.
3.Gejala dan tanda
a.Terjadi perubahan bentuk pada anggota badan yang patah. Cara yang paling baik untuk menentukannya adalah dengan membandingkannya dengan sisi yang sehat.
b.Daerah yang patah nyeri dan kaku pada saat ditekan atau bila digerakkan.
c.Bagian yang patah membengkak, disertai memar/perubahan warna
d.Bagian yang patah mengalami gangguan fungsi gerak atau sukar digerakkan
e.Terdengar suaru berderik pada daerah yang patah (akan tetapi suara ini jangan diupayakan untuk dibuktikan)
f.Mungkin terlihat bagian tulang yang patah dalam luka.
4.Jenis patah tulang
a.Patah tulang tertutup: tidak ada luka, permukaan kulit tidak rusak/masih utuh, sehingga bagian tulang yang patah tidak dapat berhubungan dengan udara.
b.Patah tulang terbuka: ada luka, permukaan kulit diatasnya rusak, sehingga bagian tulang yang patah berhubungan dengan udara. Akan tetapi tulang yang patah tidak selalu terlihat atau menonjol keluar.

B.Urai/cerai sendi (dislokasi)
1.Pengertian: keluarnya kapala sendi dari mangkok sendi atau keluarnya ujung tulang dari sendinya. Paling sering terjadi pada sendi rahang bawah dan lutut.
2.Penyebab: sendi teregang melebihi batas normal pada urai sendi rahang bawah karena membuka mulut terlalu lebar pada waktu menguap/tertawa.
3.Gejala dan tanda:
Secara umum menyerupai gejala pada patah tulang yang hanya terjadi pada sendi.

C.Terkilir/keseleo
1.Terkilir sendi (sprain)
1)Pengertian: robeknya/putusnya jaringan ikat di sekitar sendi karen asendi teregang melebihi batas normal.
2)Penyebab : terpeleset, gerakan yang salah sehingga menyebabkan sendi teregang melampaui gerakan normal.
3)Gejala dan tanda:
a.Nyeri gerak
b.Bengkak
c.Nyeri tekan
d.Warna kulit merah kebiruan, disebabkan pembuluh darah di sekitar sendi putus

2.Terkilir oto (strain)
1)Pengertian: robeknya jaringan otot/pada sambungan otot dan tendon (penggantung otot)/pada tendon karena teregang melebihi batas normal.
2)Penyebab :
a.Latihan peregangan tak cukup
b.Latihan peregangan tak benar
c.Peregangan melampaui kemampuan
d.Gerakan tak benar
3)Gejala dan tanda:
a.Nyeri yang tajam dan mendadak
b.Nyeri menyebar keluar dengan kejang dan kaku otot
c.Bengkak pada daerah cedera

D.Pembidaian
1.Pembidaian adalah upaya untuk menyetabilkan dan mengistirahatkan (immobilisasi) bagian yang diduga patah, keseleo atau cerai sendi.
2.Tujuan pembidaian:
a.Mencegah pergerakan atau pergeseran dari ujung tulang yang patah
b.Mengurangi terjadinya cedera baru di sekitar bagian tulang yang patah.
c.Memberi istirahat pada anggota badan yang patah.
d.Mengurangi rasa nyeri
e.Mempercepat penyembuhan
3.Ketentuan umum pembidaian:
a.Sedapat mungkin informasikan rencana tindakan kepada penderita
b.Sebelum membidai paparkan seluruh bagian yang cedera dan rawat perdarahan bila ada.
c.Selalu buka dan bebaskan pakaian pada daerah sendi sebelum membidai, buka perhiasan di daerah patah atau dibawahnya.
d.Nilai gerakan-sensasi-sirkulai (gss) pada bagian distal yang cedera.
e.Siapkan alat-alat selengkapnya.
f.Jangan berupaya merubah posisi bagian ynag cidera. Upayakan membidai dalam posisi ketika ditemukan. Jangan berupaya memaasukkan bagian tulang yang patah.
g.Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah,. Sebelum dipasang di ukur lebih dulu pada angota tubuh yang sehat.
h.Lapisis bidai dengan bahan yang lunak memungkinkan
i.Isilah bagian yang kosong antara tubug dengasn bidai dan bahan pelapis.
j.Ikatan jangan terlalu longgar dan jangan longgar
k.Ikatan harus cukup jumlahnya dimulai dari sendi yang bergerak, kemudian sendi atas dari tulang yang patah.
l.Bila cedera terjadi pada sendi, upayakan untuk juga membidai sendi di atas dan di bawahnya.
m.Selesai dilakukan pembidaian dilakukan pemeriksaan gerakan-sensasi-sirkulasi (gss) kembali, bandingkan dengan pemeriksaan gss pertama.
n.Jangan membidai berlebihan.

E.Pertolongan dari patah tulang dan gerak
1.Patah tulang lengan atas
a.Letakkan lengan bawah di dada dengan telapak menghadap ke dalam
b.Pasang bidai l atau bidai sampai siku
c.Ikat pada daerah di atas dan di bawah tulang yang patah.
d.Lengan bawah digendong.
e.Jika siku juga patah dan tangan tidak dapat di lipat. Pasang bidai sampai ke lengan bawah dan biarkan tangan tergantung dan tidak usah digendong.
f.Bawa korban ke rs
2.Patah tulang lengan bawah
a.Letakkan lengan pada dada
b.Pasang bidai dari siku sampai punggung lengan.
c.Ikat pada daerah di atas dan di bawah tulang yang patah.
d.Lengan digendong.
e.Kirim korban ke RS.
3.Patah tulang pinggul
1)Tanda-tanda
a.Nyeri di daerah atas kemaluan bila korban atau duduk atau berdiri.
b.Kadang tidak mampu menggerakkan kaki dan tersas kesemutan.
2)Pertolongan
a.Harus hati-hati dalam memindahkan korban.
b.Korban harus diangkat denga ususngan papan dengan kedua kaki di ikat menjadi satu.
c.Di bawah lutut diberi bantal, letakkan bantalan lunak disamping kiri dan kanan tulang pinggul.
d.Pembalut diikatkan pada tulang pinggul dan pergelangan kaki.
e.Bawa korban ke RS.
4.Patah tulang paha
a.Siapkan pembalut secukupnya untuk mengikat bidai. Sebaiknya pasang 2 bidai dari ketiak sampai sedikit melewati telapak kaki. Lipatan paha sampai sedikit melewati telapak kaki.
b.Beri bantalan kapas atau kain antara bidai dengan tungkai yang patah.
c.Bila perlu ikat kedua kaki di atas lutut dan pergelangan kaki/telapak kaki dengan pembalut untuk mengurangi pergerakan.
d.Bawa korban ke RS.
5.Patah tulang tungkai bawah
a.Siapkan pembalut secukupnya untuk mengikat bidai, sebaiknya 2 bidai sebelah dalam dan sebelah luar tungkai kaki yang patah.
b.Diantara bidai dan tungkai beri kapas atau kain sebagai alas.
c.Bidai di pasang diantara telapak kaki sampai lipatan paha.
d.Bawa penderita ke RS.
6.Patah tulang kaki
a.Apabila ada perdarahan banyak, sepatu tidak buka sebab sudah merupakan bidai.
b.Bila ada perdarahan banyak dan terjadi pembengkakan maka sepatu di buka (bila sukar digunting)
c.Hentikan perdarahan yang terjadi.
d.Beri kapas kain pada telapak kaki, kemudian bidai yang sesuai dengan panjang telapak kaki.
e.Beri ikatan pada telapak kaki dan jangan terlalu kencang.
f.Bawa korban ke RS.
7.Cerai sendi rahang bawah
a.Gejala dan tanda:
1)Mulut terbuka
2)Rahang bawah kaku dan sukar digerakkan
3)Rasa nyeri
4)Sukar berbicara
b.Pertolongan:
1)Bungkuslah kedua ibu jari penolong dengan kain bersih.
2)Berdiri di depan penderita.
3)Letakkan kedua ibu jari di masing-masing rahang penderita.
4)Tekan ke arah bawah dan dorong ke arah belakang kemudian ke atas. Penolong harus berhati-hati dan cepat melepaskan ibu jari dari mulut korban setelah posisi rahang kembali normal.
5)Setelah kembali ke posisi normal rahang di balut.
6)Bawa ke RS.
8.Terkilir
a.Letakkan korban dalam posisi yang nyaman, istirahatkan bagian yang cedera.
b.Tinggikan bagian cedera.
c.Beri kompres es maksimum selama 30 menit ulangi setiap jam bila perlu.
d.Balut tekan dan tetap tinggikan
e.Bila ragu rawat sebagai patah tulang.
f.Bawa ke RS.
LUKA BAKAR
A.Penyebab
Thermal (kontak tubuh dengan benda panas diatas 60’C)
Kimia (asam/basa kuat yang dapat mengiritasi kulit)
Listrik
Radiasi
B.Penggolongan
1.Luka bakar derajat satu (superficial): hanya meliputi lapisan kulit yang paling atas saja yang ditandai dengan kemerahan, nyeri dan kadang-kadang bengkak.
2.Luka bakar derajat dua: meliputi lapisan paling luar kulit dan di bawahnya, ditandai dengan gelembung pada kulit yang berisi cairan, bengkak, kulit kemerahan atau putih, lembab dan rusak.
3.Luka bakar derajat tiga: lapisan yang terkena tidak terbatas bahkan sampai ke tulang dab organ dalam. Biasanya ditandai dengan pucat atau putih namun dapat juga hitam dan gosong.
Prosentase luas luka bakar pada dewasa dengan hukum sembilan di daerah tubuh:
1.kepala 9%
2.badan bagian depan atas 9%
3.badan bagian depan bawah 9%
4.badan bagian belakang atas 9%
5.badan bagian belakang bawah 9%
6.lengan kanan 9%
7.lengan kiri 9%
8.tungkai kanan bagian depan 9%
9.tungkai kanan bagian belakang 9%
10.tungkai kiri bagian depan 9%
11.tungkai kiri bagian belakang 9%
12.kemaluan 1%
Prosentase luka bakar pada anak di daerah tubuh:
1.kepala 18%
2.badan bagian depan atas 9%
3.badan bagian depan bawah 9%
4.badan bagian belakang atas 9%
5.badan bagian belakang bawah 9%
6.lengan kanan depan 4,5%
7.lengan kenan belakang 4,5%
8.lengan kiri depan 4,5%
9.lengan kiri belakang 4,5%
10.tungkai kanan bagian depan 7%
11.tungkai kanan bagian belakang 7%
12.tungkai kiri bagian depan 7%
13.tungkai kiri bagian belakang 7%
Luas permukaan luka bakar tidak perlu dihitung secara tepat karena tidak akan merubah cara pertolongan.
C.Beberapa pertimbangan
1.Sebab luka bakar
listrik, luka bakar kecil tetapi kerusakan di dalam tubuh berat
kimia, masing-masing bahan memiliki karakter sendiri.
Daerah yang terkena
wajah
tangan dan kaki
kemaluan, biking dan paha dalam
sendi
2.Faktor penyulit
Usia penderita, kurang dari 5 tahun atau lebih dari 55 tahun dianggap berat.
3.Penanganan luka bakar
1.Hentikan proses luka bakarnya. Alirkan air dingin pada bagian yang terkena. Dapat diberi kompres es bila luas luka bakar kurang dari 9%. Bila ada bahan kimia alirkan air terus menerus sekurang-kurangnya selama 20 menit.
2.Buka pakaian dan perhiasan.
3.Lakukan penilaian dini.
4.Berikan oksigen bila ada dan dirasakan perlu.
5.Tentukan derajat berat dan luas luka bakar.
6.Tutup luka bakar, jangan memecahkan gelembungnya. Bila yang terbakar adalah jari-jari maka balut masing-masing jari tersendiri.
7.Upayakan penderita senyaman mungkin.
8.Rujuk ke fasilitas kesehatan.
D.Luka bakar bahan kimia
Penanganannya
a.Sikat halus untuk bahan kimia yang bersifat padat dengan di siram dengan air sebanyak-banyaknya.
b.Aliri dengan air bagian yang terkena sekurang-kurangnya selama 20 menit.
c.Amankan bekas pakaian penderita yang terkontaminasi.
d.Pasang penutup luka steril pada bagian luka.
e.Atasi syok bila ada.
f.Rujuk ke fasilitas kesehatan
E.Luka bakar listrik
Penanganannya
a.Lakukan penilaian dini
b.Periksa dan cari sekurang-kurangnya dua luka bakar yang masuk dan keluar.
c.Pakai penutup luka yang kering dan steril pada luka.
d.Atasi syok bila ada.
e.Rujuk ke fasilitas kesehatan.
Catatan: RJP pada penderita tersengat listrik harus dipertimbangkan dan penderita harus dimonitordengan ketat karena henti nafas dan henti jantung sering barulang.
F.Luka bakar inhalasi (luka bakar yang terjadi karena penyebabnya terhirup bersama dengan tarikan nafas)
Gejala dan tanda
a.Bulu hidung hangus
b.Luka bakar pada wajah
c.Bau gosong dalam cairan ludah
d.Bau gosong pada pernafasan
e.Gangguan pernafasan
f.Serak, batuk dan sukar berbicara
g.Gerakan dada terhambat
h.Sianosis (kulit kebiruan).
Penanganan
a.Pindahkan penderita ke tempat aman
b.Berika oksigen
c.Penilaian dini terutama jalan nafas dan pernafasan
d.Bila perlu melakukan pernafasan buatan
e.Rujuk ke fasilitas kesehatan

EVAKUASI

A.Pengertian
1.Evakuasi merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh suatu kelompok manusia yang mempunyai kemampuan untuk memindahkan penduduk dari tempat bencana/ terancam bahaya ke tempat lain yang lebih aman untuk sementara waktu.
2.Pemindahan korban adalah proses pemindahan korban dari tempat kejadian dengan atau tanpa sarana angkutan guna mendapatkan pertolongan medis yang lebih memadai di tempat rujukan.

B.Tugas pokok tim evakuasi secara umum
1.Menangani “pertolongan pertama”
2.Menangani tata usaha dan angkutan
3.Menangani bantuan relief,
a.Dapur Umum
b.Perkampungan Darurat
c.TMS

C.Sasaran pelaksanaan evakuasi
1.Operasi pengungsian
2.Memindahkan penduduk/orang banyak
3.Memperkecil kemungkinan terjadinya korban: fisik, materi,spiritual

D.Prinsip-prinsip/ dasar-dasar dalam memindahkan korban
1.Aman
2.Stabil
3.Korban dipindahkan secepat mungkin dengan tetap menjaga keamanan dan kestabilan selama diangkut.
4.Pengaasan korban
5.Pelihara agar keadaan tetap segar.

E.Syarat pemindahan korban
1.keadaan umum korban cukup baik dan korban tenang
2.tidak ada gangguan pernafasan
3.perdarahan sudah di atasi dengan baik
4.luka sudah dibalut
5.patah tulang sudah dibidai
Untuk palaksanaan membawa korban pada jarak pendek dapat dilakuka tanpa menggunakan alat. Apabila korban perlu dibawa untuk jarak yang sedang maka diperlukan alat, misalnya tandu. Untuk memindahkan korban pada jarak jauh sebaiknya menggunakan sarana kendaraan.
Sepanjang pelaksanaan pengangkutan korban, perlu dilakukan pemantauan korban tentang:
Keadaan umum korban
Sistem persyarafan (kesadaran)
Sistem peredaran darah (denyut nadi dan bila perlu takana darah)
Sistem pernafasan
Bagian yang mengalami cedera

F.Yang terpenting dan harus diingat dalam pemindahan korban
1.Kegawatan dan keadaan luka
2.Jumlah penolong dan fasilitas yang ada
3.Jarak ke tempat pertolonngan ,edis
4.Keadaan yang harus ditempuh.
G.Cara pengangkutan korban tanpa menggunakan alat
1.Pengangkutan tanpa alat digunakan untuk memindahkan korban jarak pendek dan korban cedera ringan.(catatan: mengangkut korban lebih dari empat orang tidak dianjurkan).
2.Pengangkutan oleh satu orang penolong:
1)Memapah
2)Membopong
3)Menggendong
4)Menarik (Rautek).(Lihat gb)
3.Pengangkutan oleh dua orang penolong:
1)Pengangkutan duduk
2)Pengangkutan berbaring
3)Pengangkutan bergantung. (lihat gb.)
4.Pengangkutan oleh tiga orang penolong:
1)Pengangkutan berbaring/sistem satu sisi.
2)Pengangkutan duduk/sistem dua sisi.
5.Pengangkutan oleh empat orang penolong:
Hal ini hampir sama dengan 3 orang penolong, hanya pada waktu mengangkat di atas paha dan meletakkan di atas tandu, penolong yang ke empat membantu penolong pertama dan kedua tangan berdiri berhadap-hadapan kira-kira tengah penolong pertama dan jedua. Hal ini dilakukan untuk korban yang lemah/sakit parah.


KEDARURATAN MEDIS

A.Gejala dan tanda pada kedaruratan medis
1.Gejala
a.Demam
b.Nyeri
c.Mual, muntah
d.Buang air kecil berlebihan atau tidak sama sekali
e.Pusing, perasaan mau pingsan , merasa akan kiamat
f.Sesak atau sukar bernafas
g.Rasa haus dan lapar berlebihan, rasa aneh pada mulut
2.Tanda
a.Perubahan status mental(tidak sadar, bingung).
b.Perubahan irama jantung: nadi cepat atau sangat lambat, tidak teratur, lemah atau sangat kuat.
c.Perubahan pernapasan: irama dan kualitas warna pada selaput lendir(pucat, kebiruan, terlalu merah).
d.Perubahan lkeadaan kulit: suhu, kelembapan, keringat berlebihan, sanagt kering termasuk perubahan warna pada selaput lendir (pucat kebiruan, terlalu merah)
e.Perubahan tekanan darah.
f.Manik mata: sangat lebar atau sangat kecil.
g.Bau khas dari mulut atau hidung.
h.Aktivitas otot tidak normal (kejang atau kelumpuhan).
i.Gangguan saluran cerna: mual muntah atau diare.
j.Tanda-tanda lainnya yang seharusnya tidak ada.

B.Beberapa gangguan medis
1.Gangguan jantung dan pernapasan
Gejala gangguan jantung adalah nyeri dada. Keadaan ini dapat terjadi akibat gangguan sirkulasi darah jantung yang berakibat terjadinya kerusakan sebagian jantung. Sistem sirkulasi peredaran darah koroner sering mengalami gangguan akibat proses perlemakan (arteriosklerosis/ penyempitan penampang pembuluh darah) sehingga pasokan darah ke jantung berkurang.
Faktor resiko penyakit jantung
a.Tidak dapat diubah
Riwayat penyakit dalam keluarga
Jenis kelamin(resiko pria terserang penyakit jantung lebih tinggi)
Latar belakang etnis
Usia (30 tahun keatas lebih rentan)
b.Dapat diubah
Merokok
Tekanan darah tinggi
Kadar kolesterol tinggi
Aktivitas fisik
c.Faktor penyulit
Obesitas (kegemukan)
Diabetes
Stres berlebihan
Gangguan jantung yang sering ditemui adalah angina(pektoris) dan gagal jantung.
Gejala dan tanda
a.Perasaan tidak enak, nyeri atau rasa berat dada dan sering menyebar ke lengan kiri, leher, rahang dan punggung
b.Nyeri berkembang beberapa menit dengan permulaan yang tiba-tiba
c.Penderita akan memegang dadanya dan sedikit membungkuk
d.Penderita sering tidak ada respon, henti napas dan denyut nadi tidak teraba
e.Gangguan pernapasan/ sesak napas setelah melakukan aktivitas fisik
f.Nadi tidak normal
g.Palpitasi (jantung terasa berdenyut-denyut)
h.Terlihat pelebaran pembuluh balik di daerah leher dan tubuh bagian atas
i.Bengkak di daerah pergelangan kaki dan perut
j.Mual, muntah, rasa tidak enak di lambung
k.Kepala terasa ringan
l.Mendadak lemas
m.Kulit pucat(abu-abu atau kebiruan)
n.Keringat berlebih
o.Merasa kiamat
Penanganan
a.Tenangkan penderita dan jangan panik.
b.Jangan tinggalkan penderita sendiri.
c.Suruh penderita menghentikan kegiatannya dan berbaring dengan posisi yang paling nyaman (biasanya posisi setengah duduk).
d.Pastikan jalan napas terbuka(beri oksigen bila perlu.
e.Kendorkan semua pakaian yang mengikat tubuh.
f.Jangan beri makan atau minum.
g.Bial penderita tidak respon berikan BHD RJP.
h.Rujuk penderita ke RS/ dokter/ puskesmas terdekat.
Beberapa contoh gangguan pernapasan.
a.Infeksi saluran napas atas dan bawah
b.Edema paru akut
c.Penyakit paru obstruktif menahun
d.Pneumotoraks spontan (udara dalam paru karena kebocoran)
e.Asma atau alergi
f.Sumbatan jalan napas
g.Emboli paru
h.Hiperventilasi
Gejala dan tanda
a.Sukar untuk menyelesaikan kalimat
b.Ada suara napas tambahan
c.Tampakkerja otot bantu napas
d.Posisi tripod(segitiga kokoh), tubuh condong ke depan, tegak, kedua tangan bertumpu pada lutut
e.Irama dan kualitas pernapasan tidak normal
f.Perubahan warna kulit
g.Perubahan status mental
h.Mengi dan betuk riak yang terkesan sukar keluar
i.Nadi cepat
Penanganan
a.Nilai pernapasan penderita apakah sudah adekuat, beri bantuan napas bila perlu. Jaga jalan napas
b.Letakkan penderita pada posisi palinh nyaman, biasanya duduk tegak
c.Beri oksigen bila perlu
d.Tenangkan penderita
e.Rujuk penderita k rs terdekat
2.Gangguan kesadaran atau perubahan status mental
Bentuknya bervariasi mulai dari perubahan respon, tidak dapat berpikir jernih, disorientasi, agresif sampai tidak ada respon. Cara yang paling sederhana adalah dengan melakukan pemeriksaan A-S-N-T. Kejadian ini biasanya didasari oleh adanya gangguan system lainnya seperti: kekurangan oksigen dalam darah(hipoksemia), kadar gula darah rendah(hipoglikemia) atau tinggi(hiperglikemia), strok(pitam otak), kejang umum,demam, infeksi, keracunan, cedera kepala, gangguan jiwa.
Penanganan
a.Nilai dan pantau pernapasan
b.Baringkan penderita
c.Beri oksigen bila perlu
d.Pantau tingkat respon dan tanda vital

3.Gangguan Kadar Gula Darah
Keadaan ini biasanya terjadi karena infeksi, tidak/ lupa makan obat, mengkonsumsi makanan yang berkadar gula tinggi dan stres berkepanjangan.
Gejala Hiperglikemia: napas berbaun aseton (gula anggur), kulit kering dan kemerahan, lapar atau haus, nadi cepat dan lemah, perubahan status mental, terlihat seperti mabuk, limbung, sering buang air kecil.
Gejala hipoglikemia: terlihat seperti mabuk, limbung bertindak aneh,agresif atau gelisah, nadi cepat, kulit teraba dingin an keriput, lapar, sakit kepala, kejang-kejang
Penyebab umum gangguan kadar gula darah dalah terlambat makan, muntah-muntah, aktivitas fisik berat, beban tubuh berat akibah suhu panas atau dingin, stres emosional, kelebihan dosis insulin.
Penanganan: lakukan penilaian dini dan usahakan mendapatkan riwayat penderita, pantau jalan napas dan pernapasannya, berikan minuman manis(bila penderita sadar).

4.Pitam Otak (stroke)
Gejala dan tanda
Nyeri kepala, kehilangan kesadaran, berbagai tingkat respon, rasa kesemutan atau kelumpuhan dari wajah dan atau alat gerak, sukar berbicara, penglihatan kabur, kejang, manik mata tidak sama, kehilangan kontrol saluran kemih,fakto resiko meningkat dengan bertambahnya usia.
Penanganan
a.Tenangkan penderita dan jangan panik
b.Jangan tinggalkan penderita sendiri
c.Baringkan penderita
d.Pastikan jalan napsa terbuka dengan baik
e.Kendorkan semua ikatan pada tubuh
f.Jangan beri makan dan minum
g.Lakukan bhd bila penderita tidak respon

5.Kejang
Penyebab Umum: penyakit kronis tertentu, epilepsi atau ayan, hipoglikemia, keracunan termasuk alkohol atau obat, stroke, demam, infeksi, cedera kepala atau tuimor otak, hipoksia, komplikasi kehamilan(eklampsia).secara umum biasanya kejang akan berhenti sendiri. Hal yang paling penting dilakukan penolong adalah penilaian dini dan menjaga jalan napas penderita serta mencegah/ merawat terjadinya cedera akibat gerakan selama kejang.

6.Ayan/ epilepsi
Kekakuan tubuh dan anggota gerak untuk beberapa saat yang disertai kejang dan diikuti hilangnya kesadaran.
Gejala dan tanda
a.Pandangan penderita mendadak kosong
b.Merasa mendengar atau melihat sesuatu
c.Teriakan tercekik
d.Jatuh tiba-tiba
e.Berbaring kaku sesaat
f.Punggung melengkung
g.Wajah dan leher kebiruan dan sembam
h.Gerakan kejang otot
i.Tidak ada respon
j.Mulut berbuih kadang berdarah (mungkin lidah tergigit)
k.Mungkin hilang kendali kemih dan pencernaan
l.Penderita mengalami buang air kecil dan buang air besar spontan
m.Penderita kembali sadar dalam waktu yang tidak lama
n.Setelah kejang pederita kelelahan dan tidur
Penanganan
a.Lindungi penderita dari cedera
b.Jangan menahan atau melawan kejang
c.Lindungi lidah penderita dari tergigit
d.Posisikan stabil segera
e.Rawat cedera akibat kejang
f.Bila serangan sudah berlalu dan penderita sudah tertidur jagalah jalan napas agar tidak tersumbat
g.Biarkan istirahat
h.Hindari penderita dari rasa ketegangan dan rasa malu sekeliling

7.Histeria
Gejala dan tanda
a.Hilang kesadaran sesaat dengan sikap terkesan dibuat-buat
b.Mungkin terguling-guling di tanah
c.Napas cepat
d.Tidak dapat bergerak atau berjalan tanpa sebab yang tampak jelas
Penanganan
a.Tenangkan penderita
b.Hindarkan penderita dari masa
c.Bawa penderita ke tempat yang tenag
d.Dampingi penderita dan awasi terus
e.Anjurkan ke dokter setelah tenang

8.Pingsan/ Syncope/ collapse
Terjadi karena peredaran darah ke otak kurang.terjadi akibat emosi, yang hebat, berada dalam ruangan yang penuh orang tanpa udara segar yang cukup, letih, lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga.
Gejala dan tanda
a.Perasaan limbung
b.Pandangan berkunang
c.Telingan mendenging
d.Lemas
e.Keluar keringat dingin
f.Menguap
g.Denyut nadi lambat

Penanganan
a.Baringkan penderita dengan tungkai ditinggikan
b.Longgarkan pakaian
c.Usahakan penderita menghirup udara segar
d.Periksa cedera lainnya
e.Beri selimut agar badannya hangat
f.Bila pulih usahakan istirahat beberapa menit
g.Bila tidak cepat pulihperiksa napas dan nadi
h.Posisikan stabil
i.Bawa ke rumah sakit


KERACUNAN

A.Pengertian
Racun adalah suatu zat yang bila masuk dalam tubuh dalam jumlah tertentu dapat menyebabkan reaksi tubuh yang tidak diinginkan bahkan dapat menimbulkan kematian.
Dalam keadaan sehari-hari ada beberapa zat yang sering digolongkan sebagai racun namun sebenarnya bahan ini adalah korosif, yaitu dapat menyebabkan luka bakar pada bagian tubuh dalam bila masuk ke dalam tubuh. Penatalaksanaan penderita pada kasus ini biasanya disamakan dengan keracunan.

B.Terjadinya Keracunan pada manusia
1.Sengaja bunuh diri
Dengan minum obat-obatan/cairan kimia dalam jumlah yang berlebihan misalnya minum racun serangga, obat tidur berlebihan. Sering berakhir dengan kematian, kecuali penemuan kasus keracunan tersebut cepat dan langsung mendapat pertolongan.
2.Keracunan tidak disengaja
a.Makan makanan/minuman yang telah tercemar oleh kuman/ zat kimia tertentu.
b.Salah minum yang biasanya terjadi pada anak-anak/orang tua yang sudah pikun misalnya obat kutu anjing disangka susu dan sebagainya.
c.Makan singkong yang mengandung kadar sianida tinggi.
d.Udara yang tercemar gas beracun.
3.Penyalahgunaan Obat
Upayakan untuk mencari jawaban dari beberapa pertanyaan berikut.
1.Apakah kira-kira bahan penyebabnya?
2.Berapa banyak jumlah zatnya?
3.Kapan kejadiannya?
4.Upaya pertolongan apa yang sudah dilakukan?

C.Jalur masuknya racun dalam tubuh manusia
1.Melalui mulut/ alat pencernaan.
a.Obat-obatan
b.Makanan/ minuman
c.Zat kimia
d.Makanan / minuman yang mengandung racun
2.Melalui pernapasan
a.Menghirup gas beracun/udara beracun (mis. gas mobil dalam kendaraan yang tertutup).
b.Kebocoran gas industri.
3.Melalui kontak atau penyerakan kulit
a.Zat kimia/tanaman beracun yang terpapar melalui permukaan kulit dan dapat meresap ke dalam kulit tersebut.
b.Tersentuh binatang yang memiliki racun pada kulit atau bagian tubuh lainnya.
4.Melalui suntikan atau gigitan
a.Gigitan / sengatan binatang berbisa (ular, kalajengking, dll.).
b.Gigitan binatang laut (ubur-abur, anemon, ketimun laut, gurita, tiram dll).
c.Obat suntik

D.Gejala dan tanda
1.Riwayat yang berhubungan dengan proses keracunan
2.Penurunan respon
3.Gangguan pernapasan
4.Nyeri kepala, pusing, gangguan penglihatan
5.Mual, muntah, diare
6.Lemas, lumpuh, kesemutan
7.Pucat atau sianosis
8.Kejang-kejang
9.Gangguan pada kulit
10.Bekas suntikan, gigitan, tusukan
11.Syok
12.Gangguan irama jantung dan peredaran darah pada zat tertentu.

E.Penanganan
1.Pengamanan sekitar, terutama bila berhubungan dengan gigitan binatang.
2.Pengamanan penderita dan penolong terutama bila berada di daerah dengan gas beracun.
3.Keluarkan penderita dari daerah berbahaya bila memungkinkan.
4.Penilaian dini, bila perlu lakukan RJP.
5.Bila racun masuk melalui jalur kontak, maka buka baju penderita dan bersihkan sisa bahan beracun bila ada
6.Bila racun masuk melalui saluran cerna, uapayakan mengencerkan racun .
7.Awasi jalan napas, terutama bila respon menurun atau penderita muntah.
8.Bila keracunan terjadi secara kontak maka bilaslah daerah yang terkena dengan air.
9.Bila ada petunjuk seperti pembungkus, sisa muntahan dan sebagainya sebaiknya diamankan untuk identifikasi.
10.Penatalaksanaan syok bila terjadi
11.Pantaulah tanda vital secara berkala.
12.Bawa ke fasilitas kesehatan


PERTOLONGAN KORBAN BANYAK (INCIDENT COMMAND SYSTEM)

A.Pengertian
Suatu sistem yang fleksibel untuk mengelola sumber daya manusia dan sarana yang tersedia. Di Indonesia ICS ini sering dikenal sebagai POSKO, yang tugas dasarnya adalah mengatur penanggulangan korban banyak atau bencana. Umumnya ICS memiliki beberapa komponen, yaitu komando/ pengendali, operasi, logistik, perencanaan, dan keuangan. Komamdo dan operasi merupakan dua komponen yangsering digunakan.

B.Sektor tanggap darurat kesehatan
1.Posko pengendali (incident Command)
2.Ekstrikasi
Sektor ini bertanggung jawab untuk membebaskan para korban yang terjebak di tempat kejadian.
3.Perawatan
Bertugas memberikan rawatan lanjutan setelah korban diserahterimakan dari sektor ekstrikasi dan triage.
4.Transportasi
Bersama-sama dengan pos komando mengatur pengiriman penderita ke RS.
5.Stanging
Bertugas mengatur koordinasi pergerakan kendaraan, institusi yang melakukan pertolongan, media, sarana, dan bantuan yang lain.
6.Pendukung (termasuk pemasok)
Bertanggung jawab menyediakan tenaga, sarana dan bahan-bahan tambahan yang diperlukan oleh sektor lainnya, mengkoordinasikan sarana dan prasarana medis, dan mengatur tim bantuan medis yang datang, serta berkoordinasi dengan sektok stanging.
7.Triage
Triage adalah indakan pemilahan korban berdasarkan prioritas pertolongan atau transportasinya. Prinsip utama dari triage adalah menolong para penderita yang mengalami cedera atau keadaan yang berat namun memiliki harapan hidup.
Penggolongan sistem triage
a.Prioritas 1 – Merah
Merupakan prioritas utama, diberikan kepada para penderita yang kritis keadaannya.
b.Prioritas 2 – Kuning
Merupakan prioritas berikutnya diberikan kepada mereka yang perlu pertolongan.
c.Prioritas 3 – Hijau
Merupakan kelompok yang paling akhir prioritasnya, dikenal juga sebagai ‘Walking Wounded” atau orang cedera yang dapat berjalan sendiri
d.Prioritas 0 – Hitam
Diberikan kepada mereka yang meninggal atau mengalami cedera yang mematikan.
Sistem START
a.Langkah ke-1--korban dapat ditunda (Label Hijau)
CaraPenolong minta pada semua korban yang dapat berjalan untuk berkumpul dan menunjukkan korban untuk pergi ke daerah aman yang ditentukan, sambil bergerak mendekati korban yang tak dapat berjalan dan tetap meneruskan Triage.
b.Langkah Ke-2--Pemeriksaan pernafasan
Cara setiap korban yang tidak dapat berjalan dan tidak memberi respon/menjawab, segera dinilai adekuasi sistem pernafasannya dengan cara membuka jalan nafas dan mempertahankan posisi jalan nafas tetap terbuka.
Pemeriksaan pernafasan ini untuk mengklasifikasikan korban dalam 3 kelompok.
Kelompok Label Hitam
Korban tidak bernafas korban mati/tidak dapat diselamatkan
Kelompok Label Merah
Korban yang pernafasanannya > 30 x /menit dikategorikan korban gawat.
Kelompok tanpa label
Korban yang pernafasannya < 30 x/menit dikategorikan korban dapat ditunda.
c.Langkah Ke-3--Penilaian Sirkulasi
CaraPada semua korban yang belum mendapat label pada langkah ke-2 (termasuk korban yang dapat memberi respon, tetapi tidak dapat berjalan misalnya karena adanya patah tulang tungkai), segera diperiksa kecukupan sirkulasinya.
Pada tahap ini didapatkan 2 klasifikasi.
Label Merah korban dengan denyut nadi tidak teratur, lemah atau pengisian kapiler terlambat lebih dari 2 detik.
Tidak diberi label korban dengan denyut nadi teratur atau pengisian kapiler kurang dari 2 detik.
d.Langkah Ke-4-- Penilaian cedera otak
CaraKorban yang belum diberi label sesudah langkah ketiga, diperiksa sistem kesadarannya dengan perintah sederhana. Bila korban dapat melakukan sesuai perintah dikategorikan mental status normal (label Kuning). Sedangkan korban yang tidak dapat melakukan sesuai perintah dikategorikan korban yang terganggu kesadarannya (label merah).

0 komentar: