Pages

Stroke Tidak Kenal Jenis Kelamin dan Usia

Serangan penyakit stroke dipastikan tidak mengenal jenis kelamin, menurut salah satu dokter ahli saraf di sebuah RS swasta di Lampung, karena penyakit gangguan saraf yang mematikan itu dapat saja menyerang kaum perempuan maupun pria, berusia lanjut atau berusia muda.

Dokter ahli saraf di RS Immanuel, dr Ruth Mariva SpS menyebutkan, penyakit stroke tidak hanya menimpa kaum pria dan manusia berusia lanjut, tapi juga bisa menyerang kaum perempuan dan orang berusia muda.

Dia menyebutkan, serangan stroke biasanya terjadi secara mendadak atau tiba-tiba dengan gejala yang bervariasi, mulai dari bicara cadel, lemah sebelah/seluruh badan, sampai tidak sadarkan diri.

Menurut dia, kasus-kasus stroke itu ternyata semakin banyak menimpa kaum perempuan dan orang berusia muda.

Meski penyakit tersebut mematikan, lanjut dia, namun masih bisa dicegah terjadi dengan menganut pola hidup sehat serta berobat secara teratur.

Dijelaskan, adanya faktor risiko stroke yang tidak bisa dimodifikasi dan menjadi unsur bawaan adalah riwayat keluarga, umur, jenis kelamin, dan ras.

Sedangkan faktor risiko yang bisa diubah adalah masalah medis dan pola hidup, di antaranya adalah gejala penyakit darah tinggi, kencing manis, penyakit jantung, kolesterol, asam urat, kegemukan, merokok, kurang berolahraga, narkoba, dan kelainan darah.

Penderita serangan stroke yang menimbulkan kerusakan otak terjadi di sebelah kiri, akan mengakibatkan penderita mengalami kelumpuhan pada sebelah kanan, gangguan berbicara, lamban, dan daya ingat merosot.

Kerusakan otak sebelah kanan, akan mengakibatkan kelumpuhan pada bagian tubuh sebelah kiri, gangguan orientasi tempat, juga kemunduran daya ingat.

Ia menyebutkan, stroke dapat dicegah dengan mengontrol faktor risiko stroke yang ada pada diri seseorang.

Dr Ruth Mariva SpS juga mengatakan, hipertensi atau tekanan darah yang terus menerus di atas ambang batas normal merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan terjadi stroke dan penyakit jantung koroner.

Hipertensi sering menimbulkan komplikasi yang akhirnya mengakibatkan terjadi gangguan pada jantung, serangan stroke, gangguan fungsi ginjal, dan penyakit arteri (pembuluh darah tepi).

Dia menyebutkan sejumlah faktor yang mempengaruhi terjadi hipertensi.

Penyebab hipertensi primer, yakni faktor turunan dan lingkungan (banyak mengonsumsi garam, alkohol, kegemukan, kurang berolahraga, merokok dan stress), sedangkan hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi ginjal, masalah hormon, obat-obatan, dan kehamilan.

Ia juga menyebutkan bahwa hampir 90% penderita hipertensi adalah hipertensi primer, sedangkan hipertensi sekunder berkisar 5-10% saja, dan lebih dari 50% penyebab stroke adalah hipertensi.

0 komentar: